Senin, 29 Agustus 2022

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif



Pada koneksi antar materi modul 1.4 ini kita akan meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di paket Modul 1 yang terdiri dari modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewantara, 1.2. Nilai dan peran Guru Penggerak, 1.3 Visi Guru Penggerak dan 1.4 Budaya Positif.  

Pada modul 1.1 membicarakan mengenai pendidikan yang tidak terlepas dari sosok Ki Hajar Dewantara atau bernama asli, R.M. Soewardi Soerjaningrat yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional. Pemikirannya yang sangat maju, terutama kepada kalangan bumiputra saat itu menjadikan ia merupakan tokoh nasional yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan kita. diantaranya adalah semboyan ing ngarso sung tulodo (didepan memberi contoh) ing madyo mangun karso (ditegah memberi semangat) tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan. Pendidikan adalah tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yang maksudnya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar tercapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyrakat. Dalam proses menuntun anak diberi kebebasan, namun pendidik sebagai pemong memberi tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar serta arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan diri. Ia menginginkan peserta didik harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tenteram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Pengajaran merupakan pendidikan dengan cara memberi ilmu atau manfaat bagi murid secara lahir batin.

Mendidik dalam arti sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Pendidik juga memerdekakan yakni dengan membiarkan anak tumbuh menurut bakat dan minatnya sesuai kodrat alam dan zaman dimana anak itu tumbuh. Sebagai seorang pendidik dengan peran sebagai pamong untuk menuntun, anak diberi kebebasan dalam belajar namun senantiasa diarahkan agar tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Proses pembelajaran yang disusun pun haruslah berpihak pada anak sehingga mereka memiliki kenyamanan dalam belajar dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Perencanaan pembelajaran haruslah juga disusun berdasarkan karakteristik masing-masing peserta didik. Menyesuaikan dengan gaya belajar, minat dan potensi yang mereka miliki. Inilah yang disebut dengan kemerdekaan dalam belajar. Segala proses belajar ini bertujuan untuk membangun budi pekerti yang dalam melaksanakan pembelajaran berfokus pada proses bukan hasil semata.

Pemikiran KHD tersebut, berhubungan juga dengan nilai dan peran Guru Penggerak seperti yang dipaparkan pada modul 1.2 yakni sebagai berikut:

Nilai Guru Penggerak

1.      Berpihak pada murid

2.      Mandiri

3.      Reflektif

4.      Kolbaoratif

5.      Inovatif

Peran Guru Penggerak

1.      Menjadi pemimpin pembelajaran

2.      Mewujdukan kepemimpinan murid

3.      Mendorong kolaborasi

4.      Menjadi coach bagi guru lain

5.      Menggerakkan komunitas praktisi

Nilai dan peran guru penggerak ini kemudian dituangkan kedalam visi guru penggerak sesuai dengan yang ada di modul 1.3. Visi guru penggerak adalah representasi visual tentang bagaimana murid kita di masa depan. Yakni, mewujudkan profil pelajar pancasila. Dalam menyusun visi, hendaklah berpihak pada murid sebagai landasan segala perubahan dalam pendidikan dengan pola pikir positif melalui pendekatan inkuiri apresiatif menggunakan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana dan Atur eksekusi).

Berdasarkan penerapan BAGJA akan muncul pembiasaan-pembiasaan positif yang kita kenal dengan budaya positif. Ini merupakan materi yang dikaji pada modul 1.4. Budaya positif akan menciptakan rasa aman dan nyaman pada murid selama proses pembelajaran. Budaya positif dapat mendorong murid untuk mampu berpikir, bertindak dan mencipta sebagai proses memerdekakan dirinya. Sehingga murid lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Dengan demikian dapat kita simpulkan dari modul 1.1, 1.2, 1.3. dan 1.4 adalah seorang guru penggerka haruslah mampu memahami nilai dan perannya untuk mewujudkan visi yang disusunnya berdasarkan filosofi pemikiran KHD yakni berpihak pada murid. Sebuah visi akan tercapai bila terukur, konkrit, sistematis dan terencana. Maka diperlukan pendekatan inquiri apresiatif (pendekatan berbasis kekuatan dan kolaboratif) dengan tahapan BAGJA. Berdasarkan penerapan tahapan BAGJA, akan muncul pembiasaan positif yang kita kenal dengan budaya positif. Budaya ini dapat mendorong murid untuk mampu berpikir, bertindak dan mencipta sebagai porses memerdekakan dirinya, sehingga murid lebih mandiri dan bertanggung jawab. Sehingga tujuan pembelajaran yakni mewujudkan manusia yang merdeka akan tercapai.

Disiplin positif sangat penting dimiliki dan diterapkan, hindari pula hukuman dan penghargaan sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Pemberian penghargaan yang berlebihan akan menjadikan motivasi intrinsik tidak muncul secara alami. Dalam menerapkan disiplin positif sebagai guru sebaiknya kita memilih posisi kontrol sebagai seorang manager. Posisi ini akan memungkinkan kita untuk menjadi pribadi yang memanusiakan manusia. Salah satu metode yang dapat kita pilih dalam penyelesaian permasalahan peserta didik adalah dengan penerapan langkah segitiga restitusi. Seperti yang pernah saya lakukan saat peserta didk saya melakukan kesalahan menyalahi keyakinan kelas dengan mengenakan topi saat KBM di kelas dan peserta didik saya yang juga terlambat dalam pemenuhan tugas. Langkah restitusi yang dilaksanakan ada tiga yakni, menstabilkan identitas, validasi dan menanyakan keyakinan. Dari hasil restitusi itu saya merasa bahwa kegiatan ini sangat baik dan memantik peserta didik untuk bepikir solusi yang terbaik bagi mereka, sekaligus melatih diri saya sendiri untuk menerapkan budaya positif dan mengambil posisi kontrol yang baik.

 

 

 

Kamis, 16 Juni 2022

Calon Guru Penggerak Angkatan V Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara ikuti Lokakarya 1

 


Sabtu, 11 Juni 2022 sebanyak dua puluh lima orang calon guru penggerak (CGP) Kabupaten Bulungan ikuti lokakarya 1. Bertempat di SMPN 1 Tanjung Selor, Lokakarya 1 diawali dengan arahan dari Kepala Balai Guru Penggerak Kalimantan Utara dan Penyampaian beberapa hal berkaitan pengalihan pengelolaan pelaksanaan PGP di Kalimantan Utara. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh pengajar praktik. Materi disampaikan secara interaktif dengan model diskusi dan juga permaian. Para CGP sangat antusias mengikuti kegiatan mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00 wita. 


Sabtu, 04 Juni 2022

Kegiatan Pendampingan Individu Oleh Pengajar Praktik kepada CGP SMAN 1 Tanjung Selor

 

Jumat, 3 Juni 2022 merupakan warna baru bagi kami Calon Guru Penggerak (CGP) dari SMAN 1 Tanjung Selor. Hari ini kami menerima kunjungan dari para pengajar praktik masing-masing untuk melaksanakan kegiatan pendampingan individu. Kegiatan pendampingan individu ini merupakan kegiatan rutin yang akan dilaksanakan oleh pengajar praktik kepada CGP. Setiap CGP didampingi langsung oleh satu pengajar praktik. Pendampingan individu bertujuan untuk membantu Calon Guru Penggerak menerapkan hasil pembelajaran daring dan lokakarya sehingga Calon Guru Penggerak mampu:

  1. mengembangkan  diri sendiri dan juga guru  lain  dengan cara melakukan refleksi,  berbagi,  dan kolaborasi;

  2. memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik;

  3. merencanakan,  menjalankan,  merefleksikan,  dan  mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua.


Proses pendampingan individu akan berlangsung satu bulan sekali sepanjang proses Pendidikan Guru Penggerak. Dalam setiap bulannya, Pengajar Praktik akan mengunjungi sekolah Calon Guru Penggerak selama kurang lebih 4 jam pelajaran untuk mengamati kegiatan pembelajaran dan perubahan yang terjadi di sekolah sebagai implementasi pembelajaran daring dan lokakarya serta mengajak mereka merefleksikan prosesnya. Kegiatan ini juga diawali dengan pembukaan sebagai bentuk sambutan dari pihak sekolah kepada para pengajar praktik



Selasa, 31 Mei 2022

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

 

Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

Berbicara mengenai pendidikan Indonesia, tidak terlepas dengan sosok Ki Hajar Dewantara atau bernama asli, R.M. Soewardi Soerjaningrat yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional. Pemikirannya yang sangat maju, terutama kepada kalangan bumiputra saat itu menjadikan ia merupakan tokoh nasional yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan kita. diantaranya adalah semboyan ing ngarso sung tulodo (didepan memberi contoh) ing madyo mangun karso (ditegah memberi semangat) tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Selain itu, Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan. Pedidikan adalah tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yang maksudnya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar tercapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyrakat. Dalam proses menuntun anak diberi kebebasan, namun pendidik sebagai pemong memberi tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar serta arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan diri. Ia menginginkan peserta didik harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tenteram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Pengajaran merupakan pendidikan dengan cara memberi ilmu atau manfaat bagi murid secara lahir batin.

Mendidik dalam arti sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Pendidik juga memerdekakan yakni dengan membiarkan anak tumbuh menurut bakat dan minatnya sesuai kodrat alam dan zaman dimana anak itu tumbuh. Sebagai seorang pendidik dengan peran sebagai pamong untuk menuntun, anak diberi kebebasan dalam belajar namun senantiasa diarahkan agar tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Proses pembelajaran yang disusun pun haruslah berpihak pada anak sehingga mereka memiliki kenyamanan dalam belajar dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Perencanaan pembelajaran haruslah juga disusun berdasarkan karakteristik masing-masing peserta didik. Menyesuaikan dengan gaya belajar, minat dan potensi yang mereka miliki. Inilah yang disebut dengan kemerdekaan dalam belajar. Segala proses belajar ini bertujuan untuk membangun budi pekerti yang dalam melaksanakan pembelajaran berfokus pada proses bukan hasil semata.

Budi pekerti terdiri dari dua kata yaitu Budi dan Pekerti. Budi itu sendiri adalah Cipta, Rasa, dan Karsa. Pekerti adalah tenaga (raga). Seorang anak dilatih untuk mampu mengolah cipta yaitu menajamkan pikirannya, mengolah rasa yaitu menghaluskan rasa, dan mengolah karsa yaitu memperkuat kemauan, dan  mengolah raga yaitu menyehatkan jasmani. sehingga pendidikan haruslah bersifat holistik dan seimbang sehingga tercipta kesempurnaan budi pekerti yang membawa anak pada kebijaksanaan.

Sebagai seorang pendidik setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan pemikiran KHD yakni dengan melaksanakan pembelajaran yang merdeka mulai dari diri secara lahir dan batin. Rutin memberikan siraman motivasi kepada peserta didik disertai dengan teladan sehingga mereka memiliki contoh yang baik. Selain itu pendidik juga harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan bahagia. Pemikiran di atas hanya akan menjadi teori bila tidak direalisasikan untuk itu,  beberapa hal dari pemikiran KHD yang telah coba saya terapkan. Dinataranya adalah  Mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Menciptakan lingkungan belajar yang mendukung serta memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. Membangun karakter, mengembangkan potensi peserta didik dan menanamkan budi pekerti kepada peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler yang saya bina.

Demonstrasi Kontekstual - Modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V (Puisi)

 



Pejuang Lintas Era (Ki Hadjar Dewantara)

Karya Nurhayati

 

Pikirku melayang

Melambungkan khayal pada era yang aksa

Pikirku melayang

Membayangkan sosok yang hanya kutatap lewat sketsa

Sosok yang kini amerta

Namun auranya masih menggema di semesta

 

Pikirannya yang mampu menembus era

Pembangun maha karya Taman Siswa

Ialah Ki Hadjar Dewantara

Sang penerang bahwa ilmu adalah tuntutan jiwa

 

Keinginannya tuk berkembang bukan hanya asa yang melayang

Iya tapakkan kakinya di dunia pendidikan meski era itu pemuda hanya mampu mengawang

Ia tanamkan prinsip bahwa manusia haruslah bestari

Zaman harus ditapaki, bukan hanya dibiarkan berlari

 

Dia, Bapak pembangun bangsa yang menyelimuti Indonesia dengan filosofinya

Dia, Bapak pembangun bangsa yang mengajarkan kita memanusiakan manusia

Dia, Bapak pembangun bangsa yang inginkan kita belajar dengan merdeka

Dia, Bapak Pembangun bangsa yang tak hanya ingin kita belajar tentang jatmika

Tapi juga tentang semua yang kita perlukan, kita harapkan dan yang menjadi tuntutan.

 

Zaman boleh berganti

Namun, Tut Wuri Handayani selalu terpatri

Kurikulum boleh berubah

Namun, pemikirannya tetap ada di lembah

 

Ia memang bukan pahlawan perang yang angkat senjata di masa juang

Tetapi yang dihadapinya lebih dari sekadar musuh yang terpampang

Pendidikan bukanlah hal serampang, karenanya kita ada di masa sekarang

Karenanya kita dapat mengecap nikmatnya sari-sari ilmu di era terang benderang.

 

 

Tanjung Selor, 29 Mei 2022

Selasa, 24 Mei 2022

Dua Puluh Lima Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan V Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara Ikuti Lokakarya Orientasi

 


Pendidikan Calon Guru Penggerak  (CGP) Angkatan V untuk wilayah kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara dimulai. Sebanyak dua puluh lima orang CGP dinyatakan lulus seleksi CGP bersiap menempuh pendidikan selama enam bulan. Pendidikan ini didampingi oleh fasilitator dan juga guru praktik. Seleksi CGP terdiri dari dua tahapan, yakni tahap 1 pengisian portofolio dan essai kemudian dilanjutkan dengan tahap 2 yakni praktik mengajar selama sepuluh menit dan sesi wawancara selama sembilan puluh menit. Kegiatan pendidikan pun dilaksanakan dengan dua mode yakni daring dan luring. Pendidikan secara daring dipandu oleh fasilitator melalui LMS besutan Kemdikbud. Sedangkan mode luring dipandu oleh  pengajar praktik. 

Peserta CGP sangat antusias dalam mengikuti kegiatan lokakarya perdana ini, melalui kegiatan ini seluruh CGP dan Pengajar Praktik bertatap muka langsung dan mendalami hakikat program Guru penggerak. Guru Penggerak merupakan salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang diharapkan mampu menciptakan individu dengan tujuan ;
  1. Guna mengembangkan peserta didik dengan refleksi, dan pembelajaran secara mandiri maupun kelompok.
  2. Menggerakan ekosistem pendidikan dengan membuka banyak kolaborasi.
  3. Mendorong tingkat kepemimpinan peserta didik agar menjadi pribadi yang lebih aktif dan percaya diri.
  4. Menciptakan format pembelajaran yang menyenangkan.
  5. Mendukung hasil pembelajaran yang implementatif kepada peserta didik.
Pendidikan yang ditempuh para CGP tidaklah sebentar, banyak hal yang harus dikaji dan dipelajari. Menemukenali kelemahan dan kekuatan yang dimiliki serta mampu mengubah paradigma berpikir tentang pendidikan sehingga dapat menjalankan pengajaran yang sesuai dengan filosofi yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. 

Jumat, 08 Oktober 2021

Unsur-Unsur Pembangun Cerita Pendek


Apa itu Cerpen?

         Apakah kalian pernah mendengar ungkapan “cerita yang dapat dibaca hanya sekali duduk”? Dalam ungkapan ini dapat disimpulkan bahwa cerita yang dimaksud adalah cerita pendek atau cerpen. Pada umumnya, cerpen bersifat fiksi atau rekayasa dan masalah yang terdapat dalam cerpen biasanya memiliki kesan tunggal. Disamping itu, ada berbagai macam karakter tokoh baik antagonis maupun protogonis, dimana dari karakter tersebut maka dapat dipelajari hal-hal yang benar dan salah dari nilai-nilai kehidupan dalam cerpen.

Selain definisi di atas, ada beberapa pengertian cerpen. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cerpen adalah sastra kisahan pendek atau kurang dari 10 ribu kata yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi atau pada suatu ketika.

Menurut Sutardi, cerpen adalah rangkaian peristiwa yang terjalin menjadi satu yang di dalamnya terjadi konflik antartokoh atau dalam diri tokoh itu sendiri dalam latar dan alur. Peristiwa dalam cerita berwujud hubungan antartokoh, tempat, dan waktu yang membentuk satu kesatuan. 

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah prosa berisi gagasan, pikiran, pengalaman yang diimajinasikan dan membentuk sebuah peristiwa dengan satu peristiwa puncak. Ada beberapa ciri-ciri cerpen yang mesti dipahami agar kita dapat membedakannya dengan karya tulis lainnya, diantaranya adalah:

a. Memiliki jumlah kata tidak lebih dari 10.000 kata.

b. Memiliki proporsi penulisan yang lebih singkat dibandingkan dengan Novel.

c. Kebanyakan mempunyai isi cerita yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.

d. Tidak mencerminkan semua kisah tokohnya. Karena dalam cerpen yang dikisahkan hanyalah

intinya saja.

e. Tokoh yang diceritakan dalam cerpen mengalami sebuah konflik sampai pada tahap

penyelesaiannya.

f. Pemilihan katanya sederhana sehingga memudahkan para pembaca untuk memahaminya.

g. Bersifat Fiktif.

h. Menceritakan satu kejadian saja dan menggunakan alur cerita tunggal dan lurus.

i. Membacanya tidak membutuhkan waktu yang lama.

j. Memberikan pesan dan kesan yang sangat mendalam sehingga pembaca akan ikut merasakan

kesan dari cerita tersebut.


Apa saja unsur-unsur pembangun Cerita Pendek?

Cerpen memiliki dua unsur pembangun, diantaranya adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik.

a.     ðŸ‘‰ Unsur intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur pembangun cerpen yang berasal dari dalam cerpen itu sendiri. Jika

diibaratkan sebuah bangunan, maka unsur intrinsik adalah komponen-komponen bangunan

tersebut. Unsur intrinsik cerpen terdiri dari tema, tokoh atau penokohan, alur cerita, latar, gaya

bahasa, sudut pandang dan amanat. Berikut penjelasannya:

1) Tema

Tema jarang dituliskan secara tersurat oleh pengarangnya. Untuk dapat merumuskan tema, kita

harus terlebih dahulu mengenali rangkaian peristiwa yang membentuk alur cerita dalam cerpen

itu. Dengan kata lain tema merupakan ide atau gagasan dasar yang melatarbelakangi keseluruhan

cerita yang ada dari cerpen. Tema memiliki sifat umum dan general yang dapat diambil dari

lingkungan sekitar, permasalahan yang ada di masyarakat, kisah pribadi pengarang sendiri,

pendidikan, sejarah, perjuangan romansa, persahabatan dan lain-lain.

2) Penokohan

Penokohan merupakan cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokohtokoh dalam cerita. Berikut cara-cara penggambaran karakteristik tokoh.

• Teknik analitik langsung

Alam termasuk siswa yang paling rajin di antara teman-temannya. Ia pun tidak merasa sombong

walaupun berkali-kali dia mendapat juara bela diri. Sifatnya itulah yang menyebabkan ia banyak

disenangi teman-temannya.

• Penggambaran fisik dan perilakutokoh

Seperti sedang berkampanye, orang-orang desa itu serempak berteriak-teriak! Mereka menyuruh

camat agar secepatnya keluar kantor. Tak lupa mereka mengacung-acungkan tangannya,

walaupun dengan perasaan yang masih juga ragu-ragu. Malah ada di antara mereka sibuk

sendiri menyeragamkan acungan tangannya, agar tidak kelihatan berbeda dengan orang lain.

Sudah barang tentu, suasana di sekitar kecamatan menjadi riuh. Bukan saja oleh demonstrandemonstran dari desa itu, tapi juga oleh orang-orang yangkebetulan lewat dan ada disana.

• Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh

Desa Karangsaga tidak kebagian aliran listrik. Padahal kampung- kampung tetangganya sudah

pada terangsemua • Penggambaran tata kebahasaan tokoh

Dia bilang, bukan maksudnya menyebarkan provokasi. Tapi apa yang diucapkannya benarbenar membuat orang sedesa marah.

• Pengungkapan jalan pikiran tokoh

Ia ingin menemui anak gadisnya itu tanpa ketakutan; ingin ia mendekapnya, mencium bau

keringatnya. Dalam pikirannya, cuma anak gadisnya yangmasih mau menyambutnya dirinya.

• Penggambaran oleh tokoh lain

Ia paling pandai bercerita, menyanyi, dan menari. Tak jarang ia bertandang ke rumah sambil

membawa aneka brosur barang-barang promosi. Yang menjengkelkan saya, seluruh keluargaku

jadi menaruh perhatian kepadanya.

3) Alur

Alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat

ataupun bersifat kronologis. Pola pengembangan cerita suatu cerpen beragam. Pola-pola

pengembangan cerita harus menarik, mudah dipahami, dan logis. Jalan cerita suatu cerpen

kadang-kadang berbelit-belit dan penuh kejutan, juga kadang- kadang sederhana.

4) Latar

Latar atau setting meliputi tempat, waktu, dan peristiwa yang digunakan dalam suatu cerita.

Latar dalam suatu cerita bisa bersifat faktual atau bisa pula yang imajinatif. Latar berfungsi

untuk memperkuat atau mempertegas keyakinan pembaca terhadap jalannya suatu cerita.

5) Gaya Bahasa

Dalam cerita, penggunaan bahasa berfungsi untuk menciptakan suatu nada atau suasana

persuasif serta merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan hubungan dan interaksi

antara sesama tokoh. Kemampuan sang penulis mempergunakan bahasa secara cermat dapat

menjelmakan suatu suasana yang berterus terang atau satiris,

6) Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan strategi yang digunakan oleh pengarang cerpen untuk

menyampaikan ceritanya. Baik itu sebagai orang pertama, kedua, ketiga. Bahkan acapkali para

penulis menggunakan sudut pandang orang yang berada di luar cerita.

7) Amanat

Amanat merupakan pesan yang hendak disampaikan pengarang. Amanat dalam cerpen

umumnya bersifat tersirat. Kehadiran amanat, pada umumnya tidak bisa lepas dari tema

cerita. Misalnya, tema cerita itu tentang perjuangan kemerdekaan, amanat cerita itu pun tidak

jauh dari pentingnya mempertahankan kemerdekaan.


👉Unsur Ektrinsik

1) Latar belakang masyarakat

Yang termasuk dalam latar belakang masyarakat adalah ideology Negara, kondisi politik,

kondisi social dan kondisi ekonomi.

2) Latar belakang penulis

Yang termasuk dalam latar belakang penulis adalah riwayar hidup penulis, kondisi

psikologis dan aliran sastra penulis.

3) Nilai yang terkandung dalam cerpen

Nilai yang merupakan u sur ekstrinsik adalah nilai agama, nilai social, nilai agama dan lainlain.


Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Pendek

a. Struktur teks cerita pendek

Stuktur cerpen merupakan rangkaian cerita yang membentuk cerpen itu sendiri. Dengan

demikian, struktur cerpen tidak lain berupa unsur yang berupa alur, yakni berupa jalinan cerita

yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat ataupun secara kronologis. Secara umum jalan

cerita terbagi ke dalam bagian-bagianberikut.

1. Pengenalan situasi cerita (exposition,orientation)

Dalam bagian ini, pengarang memperkenalkan para tokoh, menata adegan dan hubungan

antartokoh.

2. Pengungkapan peristiwa (complication)

Dalam bagian ini disajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah,

pertentangan, ataupun kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya.

3. Menuju pada adanya konflik (risingaction)

Terjadi peningkatan perhatian kegembiraan, kehebohan, ataupun keterlibatanberbagi

situasi yang menyebabkanbertambahnya kesukaran tokoh.

4. Puncak konflik (turning point)

Bagian ini disebut pula sebagai klimaks. Inilah bagian cerita yang paling besar dan

mendebarkan. Pada bagian pula, ditentukannya perubahan nasib beberapa tokohnya.

Misalnya, apakah dia kemudian berhasil menyelesaikan masalahnya atau gagal.

5. Penyelesaian (ending ataucoda)

Sebagai akhir cerita, pada bagian ini berisi penjelasan tentang sikap ataupun nasib-nasib

yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak itu. Namun ada pula, cerpen

yang penyelesaian akhir ceritanya itu diserahkan kepada imaji pembaca. Jadi, akhir

ceritanya itu dibiarkan menggantung, tanpa adapenyelesaian.

 

b. Kaidah Kebahasaan

Kaidah kebahasaan teks cerpen adalah seperti berikut.

1. Banyak menggunakan kalimat bermakna lampau, yang ditandai oleh fungsi-fungsi

keterangan yang bermakna kelampauan, seperti ketika itu, beberapa tahun yang lalu,

telahterjadi.

2. Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologis).

Contoh:sejak saat itu,setelah itu, mula-mula, kemudian.

3. Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi,

seperti menyuruh, membersihkan, menawari, melompat, menghindar.

4. Banyak menggunakan kata kerja yang menunjukkan kalimat tak langsung sebagai cara

menceritakan tuturan seorang tokoh oleh pengarang. Contoh: mengatakan bahwa,

menceritakan tentang, mengungkapkan, menanyakan, menyatakan, menuturkan.

5. Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau

dirasakan oleh tokoh. Contoh: merasakan,menginginkan, mengarapkan, mendambakan,

mengalami.

6. Menggunakan banyak dialog. Hal ini ditunjukkan oleh tanda petik ganda (“….”) dan kata

kerja yang menunjukkan tuturan langsung. Contoh:

a. Alam berkata, “Jangan diam saja, segera temui orang itu!”

b. “Di mana keberadaan temanmu sekarang?” tanya Ani pada temannya.

c. “Tidak. Sekali saya bilang, tidak!” teriak Lani.

7. Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk meng- gambarkan tokoh,

tempat, atausuasana.