Tampilkan postingan dengan label guru penggerak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru penggerak. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2022

Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Visi sekolah ditempat guru tersebut mengabdi menurut saya adalah “Mewujudkan lingkungan belajar yang indah dan menyenangkan”. Prakarsa perubahan yang akan dilakukan adalah “mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar”. Pertanyaan utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru tersebut adalah “Penyemangat pembelajaran”.

Tahapan BAGJA yang dilakukan adalah:

1.     Buat pertanyaan

Pertanyaan yang muncul adalah “Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar?” Ini berkaitan dengan pertanyaan utama dari peserta didik yakni “penyemangat pembelajaran”.

2.    Ambil Pelajaran

Pada bagian Ambil Pelajaran yang dilakukan adalah:

Guru mengajukan pertanyaan kepada peserta didik guna menggali informasi dari pendapat dan pengalaman peserta didik. Pertanyaan yang diajukan seperti "Apa yang ada dibenak peserta didik setelah membaca pertanyaan umum yang tertulis di papan tulis", Hal-hal apa saja yang disukai peserta didik di dalam kelasnya, kemudian membagi peserta didik dalam beberapa kelompok, dan meminta peserta didik untuk melakukan kunjungan ke kelas lainnya sebagai referensi lingkungan belajar yang menyenangkan dan membuat semangat belajar.

3.    Gali Mimpi

Pada tahapan ini, Sang guru meminta peserta didiknya untuk memejamkan mata mereka dan meminta mereka membayangkan suasana kelas yang mereka impikan. Setelah itu, dalam kelompok masing-masing, peserta didik diminta untuk membuat sketsa suasana kelas impian. Selanjutnya perwakilan setiap kelompok mempresentasikan hasilnya dihadapan teman-temannya.

4.    Jabarkan Rencana

Pada tahap ini, guru bersama peserta didik membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan guna mewujudkan kelas impian. Selanjutnya guru membagi tugas yang akan dikerjakan kepada setiap kelompok.

5.    Atur eksekusi

Pada tahap terakhir ini ditunjukkan dengan kebersamaan guru dan murid dalam menyelesaikan proyek kelas impian. Setiap kelompok mengerjakan tugas yang telah diberikan dengan penuh tanggung jawab serta mencari kesepakatan waktu eksekusi.

 

Dari tayangan video yang telah disajikan, kita bisa melihat peranan pemimpin yang telah dimainkan oleh sang guru yaitu Ia mampu mengelola dan memberdayakan aset  sumber daya manusia yang dimiliki untuk melakukan perubahan. Modal manusia yang dimaksud disini yaitu guru itu sendiri dan seluruh peserta didiknya dengan segala kelebihan yang mereka miliki; seperti kemampuan menganalisa, dan kreatifitas. Dengan demikian tujuan dari visi yang ada dapat tercapai dengan maksimal. Selain itu juga  modal fisik juga dimanfaatkan dengan baik oleh guru. Modal fisiknya meliputi dinding kelas yang masih kosong, meja, kursi yang tidak terpakai pun diubah menjadi rak buku. Selain itu, ada juga aset fisik berupa kelas lain yang sudah representatif sebagai lingkugan belajar yang menyenangkan sebagai referensi dari aksi perubahan yang dilakukan dalam video tersebut. Modal lain yang juga dimiliki adalah Modal Budaya yakni sudah menerapkan budaya 5S sebelum peserta didik masuk kelas.

 

Senin, 24 Oktober 2022

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

 


Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin 

Patrap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara atau yang lebih dikenal dengan ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri Handayani artinya di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi/dorongan, di belakang memberi dukungan dapat dimaknai bahwa sebagai pendidik, kita harus menyadari bahwa setiap anak membawa kodratnya masing-masing. Kita hanya perlu menuntun segala yang ada pada anak, mengarahkan dan memberi dorongan agar anak dapat berproses dan berkembang. Dalam proses menuntun, anak akan diberi kebebasan, dalam hal ini guru sebagai pamong memberikan tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya serta anak menemukan kemerdekaannya dalam belajar sehingga akan berdampak pada pengambilan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Dalam melaksanakan hal tersebut, maka guru harus mampu mengambil keputusan yang berpihak pada murid serta bijaksana. Guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutnya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Seorang pendidik tentunya harus memiliki nilai kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, gotong-royong dan nilai kebaikan lainnya dalam dirinya. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang paling kita hargai dalam hidup dan sangat berpengaruh pada pembentukkan karakter, perilaku dan membimbing dalam kita mengambil sebuah keputusan. Sebagai Guru Penggerak, tentunya ada beberapa nilai yang harus dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat diperlukan nilai-nilai atau prinsip, pendekatan, dan langkah-langkah yang benar sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan/keberpihakan pada anak didik kita. Untuk membuat keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan akan lebih jelas.Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya. ketiga prinsip ini seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus kita hadapi sebagai pemimpin pembelajaran. Ketiga prinsip tersebut adalah: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking),Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan, konsekuensi yang akan terjadi, dan meminimalisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Namun tujuan utama pengambilan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada anak didik.

Posisi guru sebagai pemimpin pembelajaran  sering dihadapkan pada situasi dimana kita diharuskan mengambil suatu keputusan, namun terkadang dalam pengambilan keputusan terutama pada situasi dilema kita masih kesulitan misalnya lingkungan yang kurang mendukung, bertentangan dengan peraturan, pimpinan tidak memberikan kepercayaan karena merasa lebih berwenang, dan meyakinkan orang lain bahwa keputusan yang diambil sudah tepat, perbedaan cara pandang serta adanya opsi benar lawan benar atau sama-sama benar. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan yang tepat dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali terlebih dahulu kasus yang terjadi apakah kasus tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika kasus tersebut merupakan dilema etika, sebelum mengambil sebuah keputusan kita harus mampu menganalisa pengambilan keputusan berdasarkan pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga hasil keputusan yang kita ambil mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman untuk muridnya. Intinya pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan . Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Kesulitan-kesulitan yang dialami di lingkungan saya dalam mengambil keputusan adalah kesulitan /kendala yang bersumber pada pengambil keputusan, di mana dalam mengambil keputusan tidak melibatkan guru atau warga sekolah lainnya, sering terjadi perbedaan pandangan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam kasus yang mempersulit tercapainya kesepakatan, dan sering dalam pengambilan keputusan tersebut , kita tidak mempunyai pilihan yang lain karena aturan yang ada pada pimpinan/ sekolah,, adanya nilai-nilai kesetiakawanan yang masih kental dalam budaya di lingkungan menimbulkan rasa kasihan lebih dominan dan terburu-buru dalam pengambilan keputusan. Kesulitan-kesulitan di atas selalu kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan. Sebagai seorang pendidik, saya merasa terbantu dengan penjelasan materi dari modul 3.1 terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran karena sebelumnya kita sering menemukan dilema namun kita belum bisa menyelesaikan permasalahan dengan mengambil sebuah keputusan dengan tepat, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul 3.1 ini maka ketika kita mengambil keputusan harus memperhatikan beberapa hal penting terkait 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan maka keputusan yang kita ambil akan berdampak baik kepada murid karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid, sehingga dengan keselamatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh murid maka kita telah mampu memerdekakan mereka dalam belajar Pendidik sudah seharusnya memberikan keputusan yang bersifat positif, membuat siswa merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk memerdekan siswa dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka. Karena pengambilan keputusan yang tepat akan mempengaruhi pengajaran seorang guru untuk mewujudkan Pendidikan yang memerdekakan murid.

Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya, merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan untuk memerdekakan murid dalam belajar, Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Dalam melaksanakan proses Pendidikan, seorang pendidik harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan. Pada modul ini saya memperlajari banyak hal baru terutama dalam pengambilan keputusan yang ternyata memiliki paradigma dan tahapan yang cukup panjang, bahkan ada prinsip pengambilan keputusan yang mendasari pengambilan keputusan tersebut. Hal yang diluar dugaan adalah ketika saya harus menentukan opsi trilema. Dapat dibayangkan, dalam mengambil  sebuah keputusan kita sudah berada dalam sebuah dilema, namun kita harus memikirkan opsi 


“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang   berharga/utama adalah yang terbaik"

 (Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob Talbert


Senin, 12 September 2022

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

 


Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi 

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. 

Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas 

  1. Menentukan tujuan pembelajaran
  2. Menganalisis kebutuhan belajar dengan melakukan asesmen diagnostik (kognitif dan kognitif)    berdasarkan tiga aspek yaitu kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid. 
  3. Menganalisis penerapan tiga strategi diferensiasi (konten, proses dan produk).
  4. Mengimplementasi rencana pembelajaran berdiferensiasi dalam konteks pembelajaran di kelas.    
  5. Melakukan asesmen pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan  murid.
Pembelajaran Berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dengan cara berikut:

1. Guru dapat melakukan pemetaan kebutuhan berdasarkan tiga aspek, yaitu: 

  • Kesiapan Belajar, Guru perlu melihat kesiapan murid untuk mengetahui kapasitas murid        mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru. 
  • Minat Belajar, Guru memberikan pilihan kepada muridnya untuk belajar sesuai dengan minatnya. Belajar sesuai dengan minat dapat meningkatkan motivasi murid untuk belajar. 
  • Profil Belajar, Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara alami dan efisien bergantung dari gaya belajarnya, kecerdasan majemuknya, pengaruh budaya dan lingkungannya. 

2. Guru dapat menerapkan tiga strategi diferensiasi secara tepat, yaitu:

  • Konten, Guru perlu menyesuaikan materi/konten pembelajaran dengan kebutuhan belajar murid yang beragam, mempertimbangkan dari pemetaan kebutuhan kesiapan, minat dan profil belajar murid. 
  • Proses, Guru perlu memvariasikan proses belajar agar beragam, sesuai dengan kbutuhan belajar murid. Proses ini mengacu pada bagaimana murid memahami atau memaknai apa yang dipelajari. 
  • Produk, Guru perlu memodifikasi tagihan produk yang akan dihasilkan murid sesuai dengan konten yang telah mereka pelajari, dan proses yang telah mereka lewati sesuai dengan minat murid. 


Keterkaitan antar Materi 


Menurut KHD Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Maka, kita sebagai pendidik menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing dan memastikan bahwa dalam prosesnya anak-anak merasa selamat dan bahagia. 

Sebagai seorang guru penggerak maka nilai dan peran yang dilaksanakan turut mendukung filosofi tersebut, sehingga guru dapat melaksanakan tugasnya dalam memunculkan motivasi murid untuk belajar dan mendidik sehingga tercipta karakter murid yang baik.Guru dapat mengunakan pendekatan Inquiri Apreiatif (IA) melalui tahapan BAGJA yakni, Buat pertanyaan terkait pemetaan kebutuhan belajar murid, Ambil Pelajaran apa yang sudah pernah dilakukan, Gali mimpi tentang kondisi ideal yang akan terjadi dalam proses pembelajaran, Jabarkan lewat tiga strategi diferensiasi lalu Atur eksekusi dengan melakukan penilaian yang sesuai dengan beutuhan belajar murid. 

Penerapan pembelajaran berdiferensasi di sekolah akan membentuk Budaya Positif dengan posisi kontrol sebagai manajer. Guru membantu membuat murid merasa dihargai dan memiliki keterkaitan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya sehingga merasa dirinya adalah bagian dari kelasnya. Oleh sebab itu,  melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi guru dapat mengakomodir keragaman murid melalui pemetaan kesiapan belajar, minat dan profil belajar sehingga dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid seutuhnya. 



Senin, 29 Agustus 2022

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif



Pada koneksi antar materi modul 1.4 ini kita akan meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di paket Modul 1 yang terdiri dari modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewantara, 1.2. Nilai dan peran Guru Penggerak, 1.3 Visi Guru Penggerak dan 1.4 Budaya Positif.  

Pada modul 1.1 membicarakan mengenai pendidikan yang tidak terlepas dari sosok Ki Hajar Dewantara atau bernama asli, R.M. Soewardi Soerjaningrat yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional. Pemikirannya yang sangat maju, terutama kepada kalangan bumiputra saat itu menjadikan ia merupakan tokoh nasional yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan kita. diantaranya adalah semboyan ing ngarso sung tulodo (didepan memberi contoh) ing madyo mangun karso (ditegah memberi semangat) tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan. Pendidikan adalah tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yang maksudnya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar tercapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyrakat. Dalam proses menuntun anak diberi kebebasan, namun pendidik sebagai pemong memberi tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar serta arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan diri. Ia menginginkan peserta didik harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tenteram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Pengajaran merupakan pendidikan dengan cara memberi ilmu atau manfaat bagi murid secara lahir batin.

Mendidik dalam arti sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Pendidik juga memerdekakan yakni dengan membiarkan anak tumbuh menurut bakat dan minatnya sesuai kodrat alam dan zaman dimana anak itu tumbuh. Sebagai seorang pendidik dengan peran sebagai pamong untuk menuntun, anak diberi kebebasan dalam belajar namun senantiasa diarahkan agar tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Proses pembelajaran yang disusun pun haruslah berpihak pada anak sehingga mereka memiliki kenyamanan dalam belajar dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Perencanaan pembelajaran haruslah juga disusun berdasarkan karakteristik masing-masing peserta didik. Menyesuaikan dengan gaya belajar, minat dan potensi yang mereka miliki. Inilah yang disebut dengan kemerdekaan dalam belajar. Segala proses belajar ini bertujuan untuk membangun budi pekerti yang dalam melaksanakan pembelajaran berfokus pada proses bukan hasil semata.

Pemikiran KHD tersebut, berhubungan juga dengan nilai dan peran Guru Penggerak seperti yang dipaparkan pada modul 1.2 yakni sebagai berikut:

Nilai Guru Penggerak

1.      Berpihak pada murid

2.      Mandiri

3.      Reflektif

4.      Kolbaoratif

5.      Inovatif

Peran Guru Penggerak

1.      Menjadi pemimpin pembelajaran

2.      Mewujdukan kepemimpinan murid

3.      Mendorong kolaborasi

4.      Menjadi coach bagi guru lain

5.      Menggerakkan komunitas praktisi

Nilai dan peran guru penggerak ini kemudian dituangkan kedalam visi guru penggerak sesuai dengan yang ada di modul 1.3. Visi guru penggerak adalah representasi visual tentang bagaimana murid kita di masa depan. Yakni, mewujudkan profil pelajar pancasila. Dalam menyusun visi, hendaklah berpihak pada murid sebagai landasan segala perubahan dalam pendidikan dengan pola pikir positif melalui pendekatan inkuiri apresiatif menggunakan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana dan Atur eksekusi).

Berdasarkan penerapan BAGJA akan muncul pembiasaan-pembiasaan positif yang kita kenal dengan budaya positif. Ini merupakan materi yang dikaji pada modul 1.4. Budaya positif akan menciptakan rasa aman dan nyaman pada murid selama proses pembelajaran. Budaya positif dapat mendorong murid untuk mampu berpikir, bertindak dan mencipta sebagai proses memerdekakan dirinya. Sehingga murid lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Dengan demikian dapat kita simpulkan dari modul 1.1, 1.2, 1.3. dan 1.4 adalah seorang guru penggerka haruslah mampu memahami nilai dan perannya untuk mewujudkan visi yang disusunnya berdasarkan filosofi pemikiran KHD yakni berpihak pada murid. Sebuah visi akan tercapai bila terukur, konkrit, sistematis dan terencana. Maka diperlukan pendekatan inquiri apresiatif (pendekatan berbasis kekuatan dan kolaboratif) dengan tahapan BAGJA. Berdasarkan penerapan tahapan BAGJA, akan muncul pembiasaan positif yang kita kenal dengan budaya positif. Budaya ini dapat mendorong murid untuk mampu berpikir, bertindak dan mencipta sebagai porses memerdekakan dirinya, sehingga murid lebih mandiri dan bertanggung jawab. Sehingga tujuan pembelajaran yakni mewujudkan manusia yang merdeka akan tercapai.

Disiplin positif sangat penting dimiliki dan diterapkan, hindari pula hukuman dan penghargaan sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Pemberian penghargaan yang berlebihan akan menjadikan motivasi intrinsik tidak muncul secara alami. Dalam menerapkan disiplin positif sebagai guru sebaiknya kita memilih posisi kontrol sebagai seorang manager. Posisi ini akan memungkinkan kita untuk menjadi pribadi yang memanusiakan manusia. Salah satu metode yang dapat kita pilih dalam penyelesaian permasalahan peserta didik adalah dengan penerapan langkah segitiga restitusi. Seperti yang pernah saya lakukan saat peserta didk saya melakukan kesalahan menyalahi keyakinan kelas dengan mengenakan topi saat KBM di kelas dan peserta didik saya yang juga terlambat dalam pemenuhan tugas. Langkah restitusi yang dilaksanakan ada tiga yakni, menstabilkan identitas, validasi dan menanyakan keyakinan. Dari hasil restitusi itu saya merasa bahwa kegiatan ini sangat baik dan memantik peserta didik untuk bepikir solusi yang terbaik bagi mereka, sekaligus melatih diri saya sendiri untuk menerapkan budaya positif dan mengambil posisi kontrol yang baik.

 

 

 

Kamis, 16 Juni 2022

Calon Guru Penggerak Angkatan V Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara ikuti Lokakarya 1

 


Sabtu, 11 Juni 2022 sebanyak dua puluh lima orang calon guru penggerak (CGP) Kabupaten Bulungan ikuti lokakarya 1. Bertempat di SMPN 1 Tanjung Selor, Lokakarya 1 diawali dengan arahan dari Kepala Balai Guru Penggerak Kalimantan Utara dan Penyampaian beberapa hal berkaitan pengalihan pengelolaan pelaksanaan PGP di Kalimantan Utara. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh pengajar praktik. Materi disampaikan secara interaktif dengan model diskusi dan juga permaian. Para CGP sangat antusias mengikuti kegiatan mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00 wita. 


Selasa, 31 Mei 2022

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

 

Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

Berbicara mengenai pendidikan Indonesia, tidak terlepas dengan sosok Ki Hajar Dewantara atau bernama asli, R.M. Soewardi Soerjaningrat yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional. Pemikirannya yang sangat maju, terutama kepada kalangan bumiputra saat itu menjadikan ia merupakan tokoh nasional yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan kita. diantaranya adalah semboyan ing ngarso sung tulodo (didepan memberi contoh) ing madyo mangun karso (ditegah memberi semangat) tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Selain itu, Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan. Pedidikan adalah tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yang maksudnya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar tercapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyrakat. Dalam proses menuntun anak diberi kebebasan, namun pendidik sebagai pemong memberi tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar serta arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan diri. Ia menginginkan peserta didik harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tenteram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Pengajaran merupakan pendidikan dengan cara memberi ilmu atau manfaat bagi murid secara lahir batin.

Mendidik dalam arti sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Pendidik juga memerdekakan yakni dengan membiarkan anak tumbuh menurut bakat dan minatnya sesuai kodrat alam dan zaman dimana anak itu tumbuh. Sebagai seorang pendidik dengan peran sebagai pamong untuk menuntun, anak diberi kebebasan dalam belajar namun senantiasa diarahkan agar tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Proses pembelajaran yang disusun pun haruslah berpihak pada anak sehingga mereka memiliki kenyamanan dalam belajar dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Perencanaan pembelajaran haruslah juga disusun berdasarkan karakteristik masing-masing peserta didik. Menyesuaikan dengan gaya belajar, minat dan potensi yang mereka miliki. Inilah yang disebut dengan kemerdekaan dalam belajar. Segala proses belajar ini bertujuan untuk membangun budi pekerti yang dalam melaksanakan pembelajaran berfokus pada proses bukan hasil semata.

Budi pekerti terdiri dari dua kata yaitu Budi dan Pekerti. Budi itu sendiri adalah Cipta, Rasa, dan Karsa. Pekerti adalah tenaga (raga). Seorang anak dilatih untuk mampu mengolah cipta yaitu menajamkan pikirannya, mengolah rasa yaitu menghaluskan rasa, dan mengolah karsa yaitu memperkuat kemauan, dan  mengolah raga yaitu menyehatkan jasmani. sehingga pendidikan haruslah bersifat holistik dan seimbang sehingga tercipta kesempurnaan budi pekerti yang membawa anak pada kebijaksanaan.

Sebagai seorang pendidik setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan pemikiran KHD yakni dengan melaksanakan pembelajaran yang merdeka mulai dari diri secara lahir dan batin. Rutin memberikan siraman motivasi kepada peserta didik disertai dengan teladan sehingga mereka memiliki contoh yang baik. Selain itu pendidik juga harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan bahagia. Pemikiran di atas hanya akan menjadi teori bila tidak direalisasikan untuk itu,  beberapa hal dari pemikiran KHD yang telah coba saya terapkan. Dinataranya adalah  Mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Menciptakan lingkungan belajar yang mendukung serta memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. Membangun karakter, mengembangkan potensi peserta didik dan menanamkan budi pekerti kepada peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler yang saya bina.

Demonstrasi Kontekstual - Modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V (Puisi)

 



Pejuang Lintas Era (Ki Hadjar Dewantara)

Karya Nurhayati

 

Pikirku melayang

Melambungkan khayal pada era yang aksa

Pikirku melayang

Membayangkan sosok yang hanya kutatap lewat sketsa

Sosok yang kini amerta

Namun auranya masih menggema di semesta

 

Pikirannya yang mampu menembus era

Pembangun maha karya Taman Siswa

Ialah Ki Hadjar Dewantara

Sang penerang bahwa ilmu adalah tuntutan jiwa

 

Keinginannya tuk berkembang bukan hanya asa yang melayang

Iya tapakkan kakinya di dunia pendidikan meski era itu pemuda hanya mampu mengawang

Ia tanamkan prinsip bahwa manusia haruslah bestari

Zaman harus ditapaki, bukan hanya dibiarkan berlari

 

Dia, Bapak pembangun bangsa yang menyelimuti Indonesia dengan filosofinya

Dia, Bapak pembangun bangsa yang mengajarkan kita memanusiakan manusia

Dia, Bapak pembangun bangsa yang inginkan kita belajar dengan merdeka

Dia, Bapak Pembangun bangsa yang tak hanya ingin kita belajar tentang jatmika

Tapi juga tentang semua yang kita perlukan, kita harapkan dan yang menjadi tuntutan.

 

Zaman boleh berganti

Namun, Tut Wuri Handayani selalu terpatri

Kurikulum boleh berubah

Namun, pemikirannya tetap ada di lembah

 

Ia memang bukan pahlawan perang yang angkat senjata di masa juang

Tetapi yang dihadapinya lebih dari sekadar musuh yang terpampang

Pendidikan bukanlah hal serampang, karenanya kita ada di masa sekarang

Karenanya kita dapat mengecap nikmatnya sari-sari ilmu di era terang benderang.

 

 

Tanjung Selor, 29 Mei 2022

Selasa, 24 Mei 2022

Dua Puluh Lima Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan V Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara Ikuti Lokakarya Orientasi

 


Pendidikan Calon Guru Penggerak  (CGP) Angkatan V untuk wilayah kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara dimulai. Sebanyak dua puluh lima orang CGP dinyatakan lulus seleksi CGP bersiap menempuh pendidikan selama enam bulan. Pendidikan ini didampingi oleh fasilitator dan juga guru praktik. Seleksi CGP terdiri dari dua tahapan, yakni tahap 1 pengisian portofolio dan essai kemudian dilanjutkan dengan tahap 2 yakni praktik mengajar selama sepuluh menit dan sesi wawancara selama sembilan puluh menit. Kegiatan pendidikan pun dilaksanakan dengan dua mode yakni daring dan luring. Pendidikan secara daring dipandu oleh fasilitator melalui LMS besutan Kemdikbud. Sedangkan mode luring dipandu oleh  pengajar praktik. 

Peserta CGP sangat antusias dalam mengikuti kegiatan lokakarya perdana ini, melalui kegiatan ini seluruh CGP dan Pengajar Praktik bertatap muka langsung dan mendalami hakikat program Guru penggerak. Guru Penggerak merupakan salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang diharapkan mampu menciptakan individu dengan tujuan ;
  1. Guna mengembangkan peserta didik dengan refleksi, dan pembelajaran secara mandiri maupun kelompok.
  2. Menggerakan ekosistem pendidikan dengan membuka banyak kolaborasi.
  3. Mendorong tingkat kepemimpinan peserta didik agar menjadi pribadi yang lebih aktif dan percaya diri.
  4. Menciptakan format pembelajaran yang menyenangkan.
  5. Mendukung hasil pembelajaran yang implementatif kepada peserta didik.
Pendidikan yang ditempuh para CGP tidaklah sebentar, banyak hal yang harus dikaji dan dipelajari. Menemukenali kelemahan dan kekuatan yang dimiliki serta mampu mengubah paradigma berpikir tentang pendidikan sehingga dapat menjalankan pengajaran yang sesuai dengan filosofi yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara. 

Jumat, 02 Oktober 2020

SRB Berbagi: Sosialisasi Pemanfaatan Portal Rumah Belajar untuk Siswa

 


Pembelajaran jarak jauh masih terus bergulir, termasuk di Tanjung Selor, kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Kami belum melaksanakan kegiatan pembelajaran tatap muka karena memang saat ini masih berada di zona kuning. Namun, jangan sebut kami Sahabat Rumah Belajar jika lantas menyerah dengan keadaan. Meskipun, harus memasyarakatkan portal ini secara daring, semangat kami tak akan luntur. Inilah yang saya lakukan, saya tetap melakukan sosialisasi meski secara daring dengan melakukan tatap maya. 

Kegiatan ini melibatkan siswa, dengan memanfaatkan aplikasi konferensi video.Pada kesempatan yang baik ini, saya memperkenalkan fitur-fitur yang ada di Rumah Belajar, dan senang sekali ternyata siswa sangat tertarik menyimak setiap penjelasan yang saya berikan.


Semoga dengan kegiatan ini, semakin banyak orang yang dapat memanfaatkan protal Rumah Belajar, karena portal ini bukan hanya memiliki fitur yang memapu mendukung kegiatan pembelajaran namun nilai lebihnya lagi portal ini dapat digunakan kapanpun, dimanapun secara gratis tanpa harus memikirkan biaya berlangganan.Sungguh menarik bukan?. 

Sabtu, 26 September 2020

SRB Berbagi: Editing Video dengan Aplikasi KINE Master, Pembuatan Blog dan Pemanfaatan Portal Rumah Belajar (Berbagi bersama di MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara)



Selama kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung, guru memiliki tantangan baru dalam menyampaikan materi pelajarannya, selain menyampaikan materi dengan cara tatap maya atau (virtual converence) alternatif  solusi yang dapat dilakukan untuk menyiasati penyampaian materi adalah membuat sebuah video pembelajaran yang diunggah melalui media sosial ataupun mengunggah pada LMS yang digunakan masing-masing guru. Jika video ini disebarluaskan, bukan hanya siswa yang Bapak/Ibu guru ajarkan saja yang akan menerima manfaatnya. Siswa yang berada jauh dari jangkauan pun dapat menyimak materi tersebut dan belajar dari hal yang Bapak/Ibu sampaikan dalam video tersebut.  

Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa tahapan dalam membuat sebuah video pembelajaran yaitu:

1.   Tahap Perencanaan 

Pada tahapan ini, Bapak/Ibu guru mulai menentukan ide dan menganalisis kebutuhan mengenai materi/Kompetensi Dasar apa yang akan dibuatkan video. Kemudian, membuat rancangan materi yang akan disampaikan dalam video. Sebaiknya pada saat rancangan materi ini kita menuangkannya kedalam naskah menggunakan word ataupun slide power point. Ini akan memudahkan kita saat melakukan kegiatan produksi.

2.  Tahap Produksi

Pada tahapan inilah video mulai dibuat. Dibutuhkan alat pengambilan gambar berupa kamera telepon genggam, atau kamera saku, alat penyangga kamera, kain latar (jika diperlukan), lampu tambahan untuk mendukung pencahayaan (jika diperlukan). Lalu, nyalakan kamera dan silakan Bapak/Ibu mulai beraksi menjelaskan materi yang sudah Bapak/Ibu siapkan. Pada tahapan ini, usahakan artikulasi dan nada bicara Bapak/Ibu jelas terdengar, jangan terlalu cepat ya.. J sehingga siswa Bapak/Ibu dapat memahami materi dengan baik.

3.  Tahap Pasca Produksi

Setelah melakukan kegiatan produksi, kita dapat menyimak hasil rekamannya. Jika ternyata, ada kesalahan penyampaian, atau hal yang ingin ditambahkan. Maka inilah saatnya, melakukan hal tersebut. Pada tahapan pasca produksi kita melakukan proses editing video, yang dalam hal ini Bapak/Ibu dapat menggunakan aplikasi Kine Master. Kine Master adalah aplikasi yang memungkinkan kita untuk mengedit video dengan menggunakan telepon genggam. Wah… tentunya menarik bukan?, prosesnya pun sangat sederhana. Belum punya aplikasinya? UNDUH DISINI

Berdasarkan hal di atas, kami merasa perlu berbagi dengan Bapak/Ibu semua, agar bisa memanfaatkan aplikasi ini demi mendukung kegiatan pembelajaran jarak jauh yang saat ini Bapak/Ibu lakukan. Maka terselenggaralah kegiatan berbagi bersama di MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Bulungan, yang dalam kegiatan ini juga diikuti oleh guru-guru dari luar wilayah kabupaten Bulungan dan dari lintas mata pelajaran. Pada kesempatan yang baik ini, Saya berbagi menyampaikan mengenai teknik editing video dengan menggunakan Kine Master. Tidak sendirian, pada kegiatan ini Duta Rumah Belajar 2018 dari Kalimantan Utara Bapak Eri Afrizal Juga turut membagikan ilmunya mengenai pembuatan Blog. Alhamdulillah, kegiatan dapat berjalan dengan lancar hingga selesai, betapa senangnya dapat berbagi dengan Bapak/Ibu semua apalagi melihat antusiasme Bapak/Ibu guru yang begitu tinggi dalam menyimak penyampaian kami.

Pada kesempatan yang baik ini, tidak lupa saya juga menyampaikan bahwa ada sebuah portal juga sangat mendukung kegiatan PJJ kita saat ini. Sebuah rumah yang bukan sembarang rumah, apalagi kalau bukan “Rumah Belajar” J. Rumah Belajar adalah Portal pembelajaran yang menyediakan bahan belajar serta fasilitas komunikasi yang mendukung interaksi antar komunitas. Rumah Belajar hadir sebagai bentuk inovasi pembelajaran di era industri 4.0 yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sederajat. Dengan menggunakan Rumah Belajar, kita dapat belajar di mana saja, kapan saja dengan siapa saja. Seluruh konten yang ada di Rumah Belajar dapat diakses dan dimanfaatkan secara gratis.

Begitu memasuki laman www.belajar.kemdikbud.go.id Bapak/Ibu guru akan dimanjakan dengan aneka fitur, mulai dari fitur utama hingga fitur pendukung yang tentunya sangat menarik dan bermanfaat.

Ayo… tunggu apalagi? Segera akses “Rumah Belajar”, Belajar dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja J.  

 


#PusdatinKemdikbud #PembaTIK2020 #BerbagiTIK #RumahBelajar2020 #DutaRumaBelajar2020 #Hayati